Perusahaan Tether pernah mengeksplorasi pendanaan sebesar 20 miliar dolar AS, namun setelah mendapatkan keraguan dari investor terhadap valuasi sebesar 5000 miliar dolar AS, mereka diam-diam beralih ke target yang lebih realistis.
CEO-nya, Paolo Ardoino, menyatakan, “Bahkan jika kami tidak menjual satu pun saham, kami tetap sangat senang.” Laporan keuangan terbaru menunjukkan bahwa laba Tether pada tahun 2025 menurun sekitar 25%.
Peralihan Pendanaan
Kisah pendanaan Tether adalah sebuah ujian pasar dari narasi besar. Raksasa kripto yang fokus pada penerbitan stablecoin USDT ini, awal tahun lalu memulai negosiasi pendanaan dengan target mengagumkan sebesar 15 hingga 20 miliar dolar AS.
Jika pendanaan dengan valuasi tersebut berhasil, Tether akan langsung masuk ke jajaran perusahaan swasta paling bernilai di dunia.
Namun, pasar memberikan respons yang tenang. Menghadapi ekspektasi valuasi sebesar 5000 miliar dolar AS, calon investor umumnya menunjukkan keraguan dan skeptisisme.
Para penasihat pun harus menyesuaikan strategi, beralih ke rencana pendanaan yang lebih kecil sekitar 5 miliar dolar AS. Ini berarti skala pendanaan diperkecil menjadi seperempat dari target awal.
Kontroversi Valuasi
Keraguan terhadap valuasi Tether sebesar 5000 miliar dolar AS berasal dari berbagai perbandingan dan penilaian. Valuasi ini akan menempatkan Tether sejajar dengan perusahaan teknologi top dunia seperti OpenAI, SpaceX, dan ByteDance.
CEO Tether, Paolo Ardoino, memiliki argumen sendiri. Ia membandingkan Tether dengan perusahaan AI yang sedang naik daun namun terus merugi: “Perusahaan kecerdasan buatan mendapatkan keuntungan sebanyak kami, hanya saja dengan tanda minus di depannya.”
Pada tahun 2025, Tether mencatat laba sekitar 10 miliar dolar AS, yang sebagian besar berasal dari pendapatan dari cadangan besar yang mendukung nilai USDT.
Berbeda dengan perusahaan teknologi yang masih membakar uang demi mengejar masa depan, Tether sudah menjadi perusahaan yang menghasilkan arus kas yang kuat dan menguntungkan. Namun, tampaknya investor belum sepenuhnya menerima logika valuasi ini.
Faktor Penyebab Laba Menurun
Penurunan laba Tether sekitar 25% pada tahun 2025 disebabkan oleh berbagai faktor yang saling terkait.
Alasan utama adalah penurunan suhu pasar kripto secara keseluruhan. Seiring para trader menarik diri dari aset berisiko tinggi, pasar kripto mengalami penurunan signifikan setelah harapan regulasi yang optimis pasca kemenangan Trump. Sebagai penerbit stablecoin yang menjadi “infrastruktur pasar”, Tether tidak bisa berdiri sendiri.
Ardoino menyebut sebagian penurunan laba disebabkan oleh penurunan harga Bitcoin. Ia juga menambahkan bahwa perusahaan memperoleh sekitar 8 hingga 10 miliar dolar AS dari hasil penjualan cadangan emasnya.
Meskipun laba menurun, kondisi fundamental Tether tetap kokoh. Pada kuartal keempat 2025, kapitalisasi pasar USDT meningkat menjadi 187,3 miliar dolar AS, dan cadangan total juga bertambah menjadi 192,9 miliar dolar AS.
Strategi Cadangan
Strategi cadangan aset Tether semakin menunjukkan karakter seperti “Dana Kekayaan Negara”. Perusahaan ini telah menjadi salah satu titik penghubung terpenting antara sistem keuangan global dan dunia kripto.
Selain menjadi salah satu pembeli obligasi AS terbesar di dunia, Tether juga memainkan peran yang semakin penting di pasar emas. Hingga akhir 2025, cadangan emas Tether mencapai 127,5 ton.
Menurut laporan Jefferies, per 31 Januari 2026, cadangan emas Tether meningkat menjadi sekitar 148 ton, dengan valuasi lebih dari 23 miliar dolar AS. Jumlah ini menempatkannya di antara 30 pemilik emas terbesar di dunia.
Data ini tampaknya mengonfirmasi pernyataan Ardoino—bahwa Tether berencana mengalokasikan 10% hingga 15% dari portofolionya ke emas fisik.
Tantangan Pasar dan Regulasi
Kekhawatiran investor tidak hanya soal valuasi, tetapi juga terkait masalah regulasi dan transparansi jangka panjang yang dihadapi Tether. Sejak didirikan pada 2014, perusahaan ini terus menghadapi pertanyaan tentang apakah tokennya digunakan untuk aktivitas ilegal dan tentang transparansi cadangan asetnya.
Meskipun Tether telah menerbitkan laporan cadangan kuartalan secara rutin melalui BDO Italia, perusahaan ini belum pernah menjalani audit independen lengkap. Masalah ini selalu menjadi kekhawatiran utama investor.
Pada akhir 2025, peringkat cadangan Tether diturunkan ke level terendah oleh S&P Global, karena eksposurnya terhadap aset berfluktuasi tinggi seperti Bitcoin dan emas terus meningkat.
Menanggapi hal ini, Ardoino berkomentar dengan nada provokatif: “Kami bangga dengan kebencian kalian.”
Perspektif Platform Gate: Peluang Perdagangan di Tengah Volatilitas
Setelah gelombang likuidasi pada Oktober 2025, stablecoin dan kategori aset terkait menunjukkan dinamika perdagangan yang baru. Meski volatilitas pasar meningkat, stablecoin utama seperti USDT menunjukkan ketahanan yang unik.
Sebagai contoh, token emas Tether, XAUT, yang mewakili cadangan emas fisik, nilainya telah melebihi 23 miliar dolar AS. Dalam masa pencarian perlindungan dan penyimpanan nilai, aset semacam ini sering menarik perhatian lebih.
Bahkan selama periode fluktuasi harga logam yang cukup tajam baru-baru ini, volume transaksi kontrak XAUT di platform Gate tetap stabil di kisaran 300 juta hingga 500 juta dolar AS dalam 24 jam, menunjukkan tingkat aktivitas yang tinggi di antara aset sejenis di seluruh dunia.
Bagi trader, memahami penyesuaian strategi dan perubahan fundamental dari penerbit utama seperti Tether adalah bagian penting dalam mengelola ritme perdagangan aset terkait. Volatilitas pasar membawa risiko sekaligus peluang.
Kesimpulan
Hingga 10 Februari 2026, harga USDT di Gate tercatat $0,999268, tetap sangat dekat dengan dolar AS dan terus memainkan peran sebagai “mata uang cadangan” dalam perdagangan kripto global.
Sementara Tether menyesuaikan strategi pendanaannya, perusahaan ini telah menjadi pembeli obligasi AS terbesar ketujuh, dan cadangan emasnya melebihi negara-negara seperti Australia dan Uni Emirat Arab. Perusahaan ini secara diam-diam membangun jembatan yang unik antara keuangan tradisional dan dunia kripto.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Tether Mundur dari Pendanaan 20 Miliar Dolar AS: Penurunan Keuntungan dan Perjudian Valuasi
Perusahaan Tether pernah mengeksplorasi pendanaan sebesar 20 miliar dolar AS, namun setelah mendapatkan keraguan dari investor terhadap valuasi sebesar 5000 miliar dolar AS, mereka diam-diam beralih ke target yang lebih realistis.
CEO-nya, Paolo Ardoino, menyatakan, “Bahkan jika kami tidak menjual satu pun saham, kami tetap sangat senang.” Laporan keuangan terbaru menunjukkan bahwa laba Tether pada tahun 2025 menurun sekitar 25%.
Peralihan Pendanaan
Kisah pendanaan Tether adalah sebuah ujian pasar dari narasi besar. Raksasa kripto yang fokus pada penerbitan stablecoin USDT ini, awal tahun lalu memulai negosiasi pendanaan dengan target mengagumkan sebesar 15 hingga 20 miliar dolar AS.
Jika pendanaan dengan valuasi tersebut berhasil, Tether akan langsung masuk ke jajaran perusahaan swasta paling bernilai di dunia.
Namun, pasar memberikan respons yang tenang. Menghadapi ekspektasi valuasi sebesar 5000 miliar dolar AS, calon investor umumnya menunjukkan keraguan dan skeptisisme.
Para penasihat pun harus menyesuaikan strategi, beralih ke rencana pendanaan yang lebih kecil sekitar 5 miliar dolar AS. Ini berarti skala pendanaan diperkecil menjadi seperempat dari target awal.
Kontroversi Valuasi
Keraguan terhadap valuasi Tether sebesar 5000 miliar dolar AS berasal dari berbagai perbandingan dan penilaian. Valuasi ini akan menempatkan Tether sejajar dengan perusahaan teknologi top dunia seperti OpenAI, SpaceX, dan ByteDance.
CEO Tether, Paolo Ardoino, memiliki argumen sendiri. Ia membandingkan Tether dengan perusahaan AI yang sedang naik daun namun terus merugi: “Perusahaan kecerdasan buatan mendapatkan keuntungan sebanyak kami, hanya saja dengan tanda minus di depannya.”
Pada tahun 2025, Tether mencatat laba sekitar 10 miliar dolar AS, yang sebagian besar berasal dari pendapatan dari cadangan besar yang mendukung nilai USDT.
Berbeda dengan perusahaan teknologi yang masih membakar uang demi mengejar masa depan, Tether sudah menjadi perusahaan yang menghasilkan arus kas yang kuat dan menguntungkan. Namun, tampaknya investor belum sepenuhnya menerima logika valuasi ini.
Faktor Penyebab Laba Menurun
Penurunan laba Tether sekitar 25% pada tahun 2025 disebabkan oleh berbagai faktor yang saling terkait.
Alasan utama adalah penurunan suhu pasar kripto secara keseluruhan. Seiring para trader menarik diri dari aset berisiko tinggi, pasar kripto mengalami penurunan signifikan setelah harapan regulasi yang optimis pasca kemenangan Trump. Sebagai penerbit stablecoin yang menjadi “infrastruktur pasar”, Tether tidak bisa berdiri sendiri.
Ardoino menyebut sebagian penurunan laba disebabkan oleh penurunan harga Bitcoin. Ia juga menambahkan bahwa perusahaan memperoleh sekitar 8 hingga 10 miliar dolar AS dari hasil penjualan cadangan emasnya.
Meskipun laba menurun, kondisi fundamental Tether tetap kokoh. Pada kuartal keempat 2025, kapitalisasi pasar USDT meningkat menjadi 187,3 miliar dolar AS, dan cadangan total juga bertambah menjadi 192,9 miliar dolar AS.
Strategi Cadangan
Strategi cadangan aset Tether semakin menunjukkan karakter seperti “Dana Kekayaan Negara”. Perusahaan ini telah menjadi salah satu titik penghubung terpenting antara sistem keuangan global dan dunia kripto.
Selain menjadi salah satu pembeli obligasi AS terbesar di dunia, Tether juga memainkan peran yang semakin penting di pasar emas. Hingga akhir 2025, cadangan emas Tether mencapai 127,5 ton.
Menurut laporan Jefferies, per 31 Januari 2026, cadangan emas Tether meningkat menjadi sekitar 148 ton, dengan valuasi lebih dari 23 miliar dolar AS. Jumlah ini menempatkannya di antara 30 pemilik emas terbesar di dunia.
Data ini tampaknya mengonfirmasi pernyataan Ardoino—bahwa Tether berencana mengalokasikan 10% hingga 15% dari portofolionya ke emas fisik.
Tantangan Pasar dan Regulasi
Kekhawatiran investor tidak hanya soal valuasi, tetapi juga terkait masalah regulasi dan transparansi jangka panjang yang dihadapi Tether. Sejak didirikan pada 2014, perusahaan ini terus menghadapi pertanyaan tentang apakah tokennya digunakan untuk aktivitas ilegal dan tentang transparansi cadangan asetnya.
Meskipun Tether telah menerbitkan laporan cadangan kuartalan secara rutin melalui BDO Italia, perusahaan ini belum pernah menjalani audit independen lengkap. Masalah ini selalu menjadi kekhawatiran utama investor.
Pada akhir 2025, peringkat cadangan Tether diturunkan ke level terendah oleh S&P Global, karena eksposurnya terhadap aset berfluktuasi tinggi seperti Bitcoin dan emas terus meningkat.
Menanggapi hal ini, Ardoino berkomentar dengan nada provokatif: “Kami bangga dengan kebencian kalian.”
Perspektif Platform Gate: Peluang Perdagangan di Tengah Volatilitas
Setelah gelombang likuidasi pada Oktober 2025, stablecoin dan kategori aset terkait menunjukkan dinamika perdagangan yang baru. Meski volatilitas pasar meningkat, stablecoin utama seperti USDT menunjukkan ketahanan yang unik.
Sebagai contoh, token emas Tether, XAUT, yang mewakili cadangan emas fisik, nilainya telah melebihi 23 miliar dolar AS. Dalam masa pencarian perlindungan dan penyimpanan nilai, aset semacam ini sering menarik perhatian lebih.
Bahkan selama periode fluktuasi harga logam yang cukup tajam baru-baru ini, volume transaksi kontrak XAUT di platform Gate tetap stabil di kisaran 300 juta hingga 500 juta dolar AS dalam 24 jam, menunjukkan tingkat aktivitas yang tinggi di antara aset sejenis di seluruh dunia.
Bagi trader, memahami penyesuaian strategi dan perubahan fundamental dari penerbit utama seperti Tether adalah bagian penting dalam mengelola ritme perdagangan aset terkait. Volatilitas pasar membawa risiko sekaligus peluang.
Kesimpulan
Hingga 10 Februari 2026, harga USDT di Gate tercatat $0,999268, tetap sangat dekat dengan dolar AS dan terus memainkan peran sebagai “mata uang cadangan” dalam perdagangan kripto global.
Sementara Tether menyesuaikan strategi pendanaannya, perusahaan ini telah menjadi pembeli obligasi AS terbesar ketujuh, dan cadangan emasnya melebihi negara-negara seperti Australia dan Uni Emirat Arab. Perusahaan ini secara diam-diam membangun jembatan yang unik antara keuangan tradisional dan dunia kripto.