Arena perdagangan global telah memasuki salah satu titik balik paling kritis dalam beberapa tahun terakhir hingga Februari 2026. Sikap tegas Presiden AS Donald Trump terhadap kebijakan perdagangan mendapatkan dimensi baru setelah putusan Mahkamah Agung terbaru. Keputusan pengadilan untuk membatalkan tarif luas yang sebelumnya diberlakukan di bawah IEEPA (International Emergency Economic Powers Act) atas dasar penyalahgunaan kekuasaan eksekutif telah memaksa pemerintahan Washington untuk melakukan pergeseran strategis. Sebagai tanggapan terhadap putusan ini, Presiden Trump segera mengumumkan aktivasi Bagian 122 dari Trade Act tahun 1974. Langkah ini membawa paket tarif global baru sebesar 15% yang bertujuan menutup defisit besar dalam neraca perdagangan luar negeri AS. Awalnya direncanakan sebesar 10%, tarif ini dinaikkan menjadi maksimum hukum sebesar 15% setelah pembaruan selama akhir pekan. Diharapkan mulai berlaku pada 24 Februari, regulasi baru ini—yang dibela dengan argumen "keseimbangan pembayaran"—telah memicu gelombang ketidakpastian yang mendalam di pasar global. Apakah Perjanjian Perdagangan Global Berisiko? Perkembangan baru ini menghadirkan lanskap yang kompleks, terutama bagi aktor seperti Inggris, Uni Eropa, dan India, yang menandatangani perjanjian perdagangan khusus dengan AS tahun lalu. Misalnya, masih menjadi pertanyaan bagaimana perjanjian yang ada dengan India—yang menurunkan tarif pada barang seperti tekstil dan farmasi menjadi 18%—akan menyelaraskan dengan pajak umum baru sebesar 15% ini. Meskipun perwakilan Gedung Putih menyatakan bahwa perjanjian bilateral sebelumnya akan dihormati, para pengelola rantai pasok global bersiap untuk era proteksionisme baru berdasarkan prinsip "reciprocity." Di sisi lain, dilaporkan bahwa produk-produk penting bagi ekonomi AS, seperti makanan, pupuk, dan bahan baku strategis tertentu, akan dikecualikan dari pajak ini. Namun, kenaikan biaya tampaknya tak terhindarkan di seluruh spektrum, dari sektor manufaktur hingga teknologi. Meskipun analis pasar mengakui bahwa langkah ini berpotensi meningkatkan produksi dan lapangan kerja domestik Amerika, mereka juga menunjukkan potensi tekanan harga pada konsumen dan risiko pembalasan dari mitra dagang. Proses ini tidak hanya digambarkan sebagai penyesuaian ekonomi, tetapi sebagai pertandingan catur diplomatik di mana aturan perdagangan global sedang ditulis ulang. Langkah-langkah ini, yang diambil sesuai dengan visi "America First" Washington, akan tetap menjadi topik paling banyak dibahas baik di dunia hukum maupun ekonomi selama 150 hari ke depan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
33 Suka
Hadiah
33
34
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
Falcon_Official
· 28menit yang lalu
Semoga Anda mendapatkan kekayaan besar di Tahun Kuda 🐴
#TrumpAnnouncesNewTariffs
Arena perdagangan global telah memasuki salah satu titik balik paling kritis dalam beberapa tahun terakhir hingga Februari 2026. Sikap tegas Presiden AS Donald Trump terhadap kebijakan perdagangan mendapatkan dimensi baru setelah putusan Mahkamah Agung terbaru. Keputusan pengadilan untuk membatalkan tarif luas yang sebelumnya diberlakukan di bawah IEEPA (International Emergency Economic Powers Act) atas dasar penyalahgunaan kekuasaan eksekutif telah memaksa pemerintahan Washington untuk melakukan pergeseran strategis.
Sebagai tanggapan terhadap putusan ini, Presiden Trump segera mengumumkan aktivasi Bagian 122 dari Trade Act tahun 1974. Langkah ini membawa paket tarif global baru sebesar 15% yang bertujuan menutup defisit besar dalam neraca perdagangan luar negeri AS. Awalnya direncanakan sebesar 10%, tarif ini dinaikkan menjadi maksimum hukum sebesar 15% setelah pembaruan selama akhir pekan. Diharapkan mulai berlaku pada 24 Februari, regulasi baru ini—yang dibela dengan argumen "keseimbangan pembayaran"—telah memicu gelombang ketidakpastian yang mendalam di pasar global.
Apakah Perjanjian Perdagangan Global Berisiko?
Perkembangan baru ini menghadirkan lanskap yang kompleks, terutama bagi aktor seperti Inggris, Uni Eropa, dan India, yang menandatangani perjanjian perdagangan khusus dengan AS tahun lalu. Misalnya, masih menjadi pertanyaan bagaimana perjanjian yang ada dengan India—yang menurunkan tarif pada barang seperti tekstil dan farmasi menjadi 18%—akan menyelaraskan dengan pajak umum baru sebesar 15% ini. Meskipun perwakilan Gedung Putih menyatakan bahwa perjanjian bilateral sebelumnya akan dihormati, para pengelola rantai pasok global bersiap untuk era proteksionisme baru berdasarkan prinsip "reciprocity."
Di sisi lain, dilaporkan bahwa produk-produk penting bagi ekonomi AS, seperti makanan, pupuk, dan bahan baku strategis tertentu, akan dikecualikan dari pajak ini. Namun, kenaikan biaya tampaknya tak terhindarkan di seluruh spektrum, dari sektor manufaktur hingga teknologi. Meskipun analis pasar mengakui bahwa langkah ini berpotensi meningkatkan produksi dan lapangan kerja domestik Amerika, mereka juga menunjukkan potensi tekanan harga pada konsumen dan risiko pembalasan dari mitra dagang.
Proses ini tidak hanya digambarkan sebagai penyesuaian ekonomi, tetapi sebagai pertandingan catur diplomatik di mana aturan perdagangan global sedang ditulis ulang. Langkah-langkah ini, yang diambil sesuai dengan visi "America First" Washington, akan tetap menjadi topik paling banyak dibahas baik di dunia hukum maupun ekonomi selama 150 hari ke depan.